Friday, September 29, 2006

Kampung Laut Pun Jadi Kampung Darat

SEPERTI umumnya rumah nelayan di kampung laut, tempat tinggal Sutawa di Dusun Karanganyar, Desa Ujungalang, yang berada di wilayah Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah, merupakan rumah panggung yang amat sederhana.Sebagian dinding terbuat dari anyaman bambu yang biasa disebut gedhek, bagian lainnya papan kayu albasia. Rumah itu ditopang tiang–tiang dari batang kayu tancang.

Di salah satu tiang yang kokoh menancap di dasar laut, seutas tali mengikat kuat sebuah perahu jukung yang khas nelayan tradisional kawasan ini.Dengan perahu itu Sutawa setiap hari menangkap ikan. Ia tidak perlu jauh-jauh mendayung perahu jukungnya, karena di Perairan Segara Anakan ikan dan udang sangat melimpah. Sekali melaut ia dapat menangkap 25-50 kilogram. Malah pada musim angin barat untuk memperoleh satu kuintal ikan tidaklah sulit.

Tapi itu cerita tempo doeloe, ketika Laguna Segara Anakan masih luas dan dalam. Saat itu Segara Anakan jadi habitat ikan, udang, kerang totok, kepiting, dan biota laut lainnya. Ketika perkampungan nelayan di sana masih berupa rumah –rumah panggung di atas laut. Ketika itu, hutan mangrove juga belum ditebangi untuk dijadikan kayu bakar atau perangkat rumah.

Kini laguna telah menyempit. "Airnya cethek (dangkal). Sekarang jika melaut harus benar-benar memperhitungkan waktu. Harus tahu kapan air pasang dan kapan surut. Salah perhitungan berarti harus bekerja keras menyeret perahu pulang. "Kalau lagi surut, kedalaman Segara Anakan hanya berkisar 0,5-0,75 meter," ujar Kenci (51) kepada Kompas.

DI Segara Anakan terdapat empat desa kampung laut. Masing–masing Desa Ujungalang tempat tinggal Sutawa, Ujunggagak dan Panikel di Kecamatan Kawunganten, serta Desa Pamotan di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Total penduduk kampung laut tidak kurang dari 14.000 jiwa. Desa-desa ini dikelilingi perairan dan hutan mangrove. Namun, rumah mereka yang dulu berupa rumah panggung di atas laut sekarang sudah hampir tidak dijumpai lagi. Meskipun demikian, julukan kampung laut tetap melekat. Perairan terus menyusut dan berubah menjadi daratan akibat endapan lumpur dari Sungai Citanduy dan sungai–sungai lain.
Bangunan–bangunan rumah pun berubah sejalan dengan bertambahnya tanah timbul (daratan). Dari rumah panggung kayu tancang menjadi rumah berdinding tembok dengan lantai keramik. Sebagian perumahan penduduk telah diterangi listrik tenaga surya. Lambat laut rumah papan mulai menghilang.

Sebagian penduduk berpindah pekerjaan dari nelayan menjadi petani, menggarap tanah-tanah timbul yang terus bertambah. Sebagian lainnya mencoba bertahan jadi nelayan.
Namun, belasan tahun terakhir semakin sulit mendapat tangkapan. "Untuk membawa dua hingga tiga kilo ikan kecil susahnya bukan main," tutur Kasan (43) warga Kampung Motean, Desa Panikel.
Bahkan, pada musim panen nelayan hanya dapat memperoleh tangkapan 25-30 kilogram ikaN.

Saat ini sebagian nelayan mengandalkan kepiting bakau sebagai tangkapan karena di pasaran harganya lumayan menggiurkan: Rp 25.000-Rp 30.000 per kilogram. Namun, kepiting bakau Segara Anakan mulai menyusut karena hutan mangrove habitat mereka ditebangi penduduk.
Sebenarnya kepiting tidak menghabiskan seluruh hidupnya di kawasan mangrove. Ia bertelur di lepas pantai. Setelah menetas, larva-larvanya menuju ke samudra. Tapi setelah tumbuh menjadi kepiting dewasa, ia memerlukan hutan bakau.
Kepiting-kepiting kecil itulah yang ditangkap nelayan, sehingga kepiting bakau lama kelamaan lenyap. Terlebih setelah kawasan hutan mangrove rusak dan Perairan Segara Anakan berubah jadi daratan akibat endapan lumpur.

Hilangnya hutan bakau juga mengurangi populasi ikan, udang, dan biota laut lainnya. Kawasan sisa-sisa hutan mangrove itu tidak lagi menjadi persinggahan burung bangau Australia yang akan bermigrasi, karena sudah sulit mematuk ikan atau udang.

Hasil survei yang dilakukan tahun 1980-an menunjukkan, di Segara Anakan terdapat 26 jenis tumbuhan mangrove dengan tiga jenis vegetasi (tumbuhan). Yang paling dominan adalah jenis api-api, bakau, dan tancang (Bruguiera gymnonthiza) yang sering dimanfaatkan penduduk untuk kerangka bangunan rumah panggung.

Mangrove memang merupakan ekosistem paling produktif di antara komunitas laut. Daun-daunnya yang rontok ke air dan kemudian melapuk merupakan tempat mencari makan serta tempat pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut bernilai ekonomi tinggi. Kawasan ini berperan besar terhadap tingginya hasil perikanan di Laguna Segara Anakan.

Laguna yang saat ini luasnya tinggal 600 ha, pernah menyumbang tujuh persen dari total produksi udang di Perairan Cilacap. Tahun 1990 misalnya, hasil tangkapan udang dari Segara Anakan berkisar 830-an ton. Namun, tahun-tahun terakhir untuk mencapai angka 25 ton saja amatlah sulit.

PERUSAKAN hutan mangrove sudah berlangsung lama dan meningkat tajam pertengahan 1980-an. Penyusutan hutan ini secara signifikan diikuti penurunan hasil tangkapan ikan dan udang.
Perusakan hutan bakau tahun 1984 oleh penduduk di kampung laut tanpa disadari telah menyebabkan malapetaka dengan berjangkitnya penyakit malaria. Kejadian itu menelan korban 107 jiwa warga kampung laut, dan sekitar 345 orang lainnya dirawat di rumah sakit.
Penebangan kawasan hutan mangrove menyebabkan luas hutan ini terus menyusut. Hutan mangrove yang luasnya pernah mencapai 21.000 ha lebih kini diperkirakan hanya seluas 1.200 ha.

Bersamaan dengan menyusutnya hutan mangrove, perairan Segara Anakan ikut menyempit karena sedimentasi dari beberapa sungai yang bermuara di situ. Tak ada lagi mangrove yang menghambat sedimentasi, sehingga pendangkalan berlangsung amat cepat.
Citanduy misalnya, setiap tahun menyumbang sedikitnya 6,4 juta ton sedimen. Ini ditambah 1,5 juta ton sedimen dari Sungai Cimeneng. Erosi dari hutan Daerah Aliran Sungai Citanduy saat ini masuk kategori "berat dan sangat berat".
Menumpuknya sedimen Citanduy dan beberapa sungai lain selama bertahun-tahun mendangkalkan dan menyempitkan perairan. Dulu kedalaman Segara Anakan 8-10 meter, sekarang tak lebih dari 1,25 meter.

Tahun 1903 luas Segara Anakan masih 6.450 ha, tapi tahun 1998 luasnya tinggal 1.400 ha. Menurut citra satelit yang terekam September 2002, luasnya tinggal 600 ha.
Laguna Segara Anakan tinggal menunggu lenyap saja dari peta Kabupaten Cilacap. Tanpa upaya penyelamatan, dua-tiga tahun ke depan Laguna tersebut tinggal alur-alur sungai saja.

No comments:

Post a Comment