Monday, October 05, 2009

Doa Seorang Ayah ( untuk anaknya )

oleh General Douglas Mc Arthur

Mungkin menjadi doa kita untuk anak – anak kita.

( Doa ini pernah merasukiku ketika kudengar di pagi buta tahun 1984 di kawasan Situ Gunung setelah melalui perjalanan panjang melalui dua lembah dan dua puncak gunung yang nyaris seorang diri tanpa henti. Saat kudengar, aku sedang berdiri diatas lututku, kepala menunduk dan air membasahi sekujur tubuhku. Sekarang kutulis kembali dan mencoba kuperdengarkan untuk anak – anakku. Semoga mereka mendengar dan memahaminya. K-128-84 ).

Tuhanku ...
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui,
manakala ia lemah.
Dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri, manakala dia takut.
Manusia yang bangga dan teguh dalam kekalahan, jujur dan rendah hati
serta berbudi halus dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang hasrat-hasratnya hendak
menggantikan yang mati, putera yang selalu mengetahui Engkau, dan insyaf
bahwa mengenal dirinya sendiri adalah landasan pengetahuan.

Tuhanku ...
Aku mohon agar puteraku jangan dibimbing dijalan yang mudah dan lunak,
tetapi dibawah tekanan dan desakan kesulitan dan tantangan. Didiklah
puteraku supaya teguh berdiri diatas badai serta berbelas kasihan
terhadap mereka yang gagal.
Bentuklah puteraku supaya menjadi manusia yang berhati jernih, yang
cita-citanya tinggi. Putera yang sanggup memimpin dirinya sendiri
sebelum berhasrat memimpin orang lain.
Putera yang menjangkau hari depan namun tidak pernah melupakan masa
lampau.

Dan setelah itu menjadi miliknya, aku mohon agar puteraku juga diberi
rasa humor, agar dia tidak menganggap dirinya terlampau serius.
Berilah dia juga kerendahan hati agar dia dapat selalu ingat pada
kesederhanaan dan keagungan asli, pada sumber kearifan dan pada
kelembutan juga pada kekuatan yang asli.
Dengan demikian maka, aku ayahnya, akan memberanikan diri dan berbisik :
"Hidupku tidak sia-sia".

Thursday, September 03, 2009

Cilacap ( Tjilatjap ) & Segara Anakan

Cilacap and Segara Anakan

Location:'7'35'-7°46'S, l08°45'-109°01'E; on the south coast of West Java, close to the frontier with Central Java.
Area:24,000 ha.
Altitude:Sea level.
Biogeographical Province:4.22.12.
Wetland type:02, 03, 05, 06, 07, 08 & 11.

Description of site:
A large, shallow sea bay with two connections to the open sea, one at the southern end of a sandy barrier island and the other to the west of the rocky island of Nusa Kambangan. Fresh water and silt enter the bay via the Citanduy, Cibeureum and Kawunganten Rivers and several smaller streams. The bay contains extensive mangrove swamps dissected by a network of tidal creeks, and there are marshes and mudflats around Segara Anakan. The coastal plain of Cilacap consists of low-lying swampy areas and rice paddies, and higher old dunes and beach ridges, usually occupied by human settlements. There are several oxbow lakes formed as abandoned meanders of the Serayu River. The site contains at least 18,500 ha of mangrove swamp and 200 ha of tidal marsh. Some 8,200 ha of the surrounding swamps have already been converted into rice paddies.

Climatic conditions:
Humid tropical maritime climate with a maximum rainfall of 3,720 mm per year. The average temperature is 27°C.
Principal vegetation:Mangrove swamps with a very diverse flora. Tree species include Rhizophora mucronata, R. conjugata, Bruguiera gymnorhiza, B. parviflora, Ceriops candoleana, C. roxburghiana, Xylocarpus granatum, X. molluccensis, Avicennia off icinalis, A. marina, Sonneralia alba, S. ovata, S. acida, Aegiceras corniculatum, A. floridum. Lumnitzera racemosa, L. littorea, Scyphiphora hydrophyllaceae, Cynometra ramiflora, Pit hecellobium umbellatum, Heritiera littoralis, Cerbera manghas and Nypa fruticans. Other plants associated with the mangroves include Acrostichum aureum, Acanthus ilicifolius and Derris heterophylla.

Land tenure:
State owned (Indonesian Government).

Conservation measures taken:
The number of trawlers permitted to fish in the Cilacap area is limited to 90. This regulation came into effect in July 1978. Trawlers are not allowed to fish in the traditional fishing grounds which extend three nautical miles offshore.
Conservation measures proposed:Various scientists and conservationists have proposed that the site be given special protection. The Citanduy River Basin Management Project made several proposals to stabilize the lagoon by diverting the Citanduy River, dredging and churning up sediment to facilitate transportation.

Land use:
Fishing, cultivation of rice and cutting of mangrove poles; fishing, forestry, agriculture and recreation in adjacent areas.
Disturbances and threats:The rate of sedimentation has increased to such an extent that the surface area of the lagoon will decrease from the current 1,400 ha to about 550 ha by the year 2000 (Guarin & White, 1988). There are not enough patrols to check the implementation of the fishing regulations, and over-fishing has become a problem. Illegal cutting of the mangrove forest has led to severe degradation of the forest, especially in the Karang Anyar area. Reclamation and polderization of the swamps for agricultural purposes continue. At present, there is no serious chemical pollution in the lagoon, although some domestic wastes and increasing pesticide residues may be problems.

Economic and social values:
Cilacap is a very important region for its marine fishery resources, and most of the 8,000 people dependent on Segara Anakan are fishermen. The fishery resources have been exploited by traditional methods for a very long time. Modern technology has been used since 1971, mainly for shrimp fishing (trawling). The number of trawling units has been limited to 90 since 1976, to curb over-fishing. In 1977, the production of demersal fish was 18,300 metric tonnes, but by 1979, production was down to 13,500 metric tonnes. The present catch of offshore fisheries is estimated at only 9,050 metric tonnes (7,150 tonnes of finfish and the rest, penaeid shrimps). The lagoon itself produces about 400 metric tonnes of finfish, shrimps and crabs per year. The mangrove forest is of great value to the local people. It provides firewood, timber for construction purposes, and the materials for making fish traps and racks for drying fish and shrimps.

Fauna:
The bay supports a very rich fish fauna. Species of commercial importance include Luijanus spp, Formio niger, Pampus spp, Anus spp, Trichiurus spp, Priacanthus spp, Chorinemus sp, Epinephalus spp, Pomadacys spp, Nemipterus spp, Saurida spp, Johnius sp, Eutherapon sp, Upeneus spp, Gerres kapas, Leognathus spp, Anguilla spp, Psettodes sp, Cygnoglossus sp, Himantura spp and Carchaninus spp. Some of the many species of no commercial importance include Periophthalmus koereuteri, Mugil sp. Peniophihalmodon scholosseri and Acentrogobius virdipunctatus.Waterfowl known to occur at the site include Anhinga melanogaster. Bubulcus ibis, Egretta alba, Ardea purpurea, A. cinerea, Mycteria cinerea, Ciconia episcopus. Dendrocygna arcuata, Amaurornis phoenicurus and Porphynio porphyrio. Small cetaceans occur in the bay, and Cervus sp, Muntiacus muntjak, Macaca sp and Hystrix brachyura occur in the forests. Reptiles include the Green Sea Turtle Chelonia mydas and the monitor lizard Varanus salvalor.The rich invertebrate fauna includes the economically important crab Scylla serrata, other crabs such as Macrophihalmus bosci, Uca sp, Neopisesarma taeniolata, Grapsus sp and Pagurus sp, and a wide variety of molluscs (bivalves, Luciniidae, Anomia corugata, Pedalion isogunum and eighteen species of Gastropods).

Special floral values:
Site contains a particularly large and diverse stand of The mangrove forest.

Research and facilities:
The area has been the subject of a considerable amount of research by Indonesian scientists, and is currently being investigated under the ASEAN-US Coastal Resources Management Project.

References:
Bird et al. (1982); Direktorat P.P.A. (1980g. l986a & 1986b); FAO (l979a); Guarin & White (1987); Sukardjo (1984).
Criteria for Inclusion:1b, 1e, 2a, 2c, 3b.

Source:
Marcel J. Silvius and Eva T. Berczy.
www.arbc.org.ph

Monday, August 31, 2009

Surat Pos Tempo Doeloe dari Kantor Pos Tjilatjap


Atas : Stempel Pos - Tjilatjap 22 Maret 18 Maret 1892
Bawah : Stemple Pos - Tjilatjap 9 Agustus 1892

Seleko 1917

Pelabuhan Tjilatjap 1942


Marinir Belanda di Tjilatjap tahun 1947


USS Marblehead 4 Februari 1942 di Tjilatjap




Kapal Kapal Amerika di Tjilatjap dalam Perang Dunia II : USS Houston



USS Houston di perairan pelabuhan Tjilatjap tanggal 6 Februari 1942

Tjilatjap Perang Dunia II : Kapal Asheville 3 Maret 1943

Selagi menunggu untuk pemberangkatan ke Australia dan menderita karena kerusakan mesin, kapal Asheville berlayar ke arah titik pertemuan dengan kapal kapal lain 500 mile sebelah tenggara Tjilatjap. Posisi pertemuan ternyata telah diketahui oleh destroyer dan cruiser angkatan laut Jepang yang telah menunggu kedatangan angkatan laut Amerika ( US forces ). Jepang menghujani Asheville dengan tembakan tembakan meriam selama 30 menit dan membuatnya rusak parah. Kapal tenggelam bersama dengan 160 pelautnya. Hanya seorang pelaut yang selamat dan ditangkap oleh destroyer pihak Jepang yang kemudian dibawa ke Kamp Sulawesi sebagai tahanan perang. Dia meninggal di bulan Maret 1945 di dalam tahanan.

Monday, November 03, 2008

Cilacap dan PLTU nya ( 5 )



Sistem Pengubahan air menjadi uap dalam Boiler


PENJELASAN SEDERHANA KERJA PLTU


Bagi yang sudah paham tentang kerja PLTU tdak perlu membaca posting ini. Posting ini saya dedikasikan kepada adik - adik Sekolah Dasar, SMP serta siapa saja yang memang tidak tahu atau buta sama sekali tentang PLTU.


BOILER & BAHAN BAKAR

Foto : Teko
Berbicara operasi PLTU berarti kita berbicara tentang kerja merebus air. Sederhananya mari kita bayangkan atau kita gambarkan sebagai berikut. Ambil satu cerek atau teko yang terbuat dari logam ( Bahasa Cilacap : Ceret ) yang biasa untuk memasak air. Teko mempunyai leher untuk menuangkan air, ada lubang teko untuk mengisi air dan pegangan untuk mengangkatnya. Untuk memasak air dengan teko diperlukan kompor atau tungku ( Bhs Cilacap : Pawon ). Nah tungku atau kompor atau Pawon ini berfungsi untuk memanaskan air. Kompor / Pawon dan teko ini dalam bahasa teknis PLTU disebut Boiler ( bahasa inggris untuk pemanas atau alat untuk merebus ).




Foto : Pawon dengan kayu bakar



Apakah bahan bakar PLTU ? Bahan bakar PLTU bisa dilihat dari kompor atau tungku / pawon yang digunakan, bisa minyak, bisa gas dan bisa kayu atau arang. Bahan bakar batu bara bisa disamakan dengan bahan bakar kayu bakar untuk tungku / pawon.


Untuk PLTU batubara kita bisa mulai menggambarkannya dengan merebus air dengan teko ( ceret ) menggunakan tungku ( Pawon ) berbahan bakar kayu bakar. Kayu bakar identik dengan batubara karena batubara sebenarnya berasal dari kayu yang tertimbun tanah ratusan hingga jutaan tahun yang lalu hingga mengeras. Kayu bakar akan memanaskan air dalam teko hingga mendidih. Saat mendidih air berubah menjadi uap. Uap ini akan keluar melalui leher teko dengan kecepatan yang cukup kencang. Bahkan dibeberapa teko / ceret moderen leher teko diberi penutup dengan lubang kecil sehingga saat air mendidih dan uap keluar dari lubang ini dengan bunyi yang kencang. Bunyi ini memberitahu sipemilik bahwa air sudah mendidih. Inilah urutan kerja yang paling penting dari PLTU yaitu merebus air di dalam teko yang dalam istilah teknis PLTU di sebut Boiler.

Turbine & Generator Listrik



Foto : Selubung luar Turbin
Generator listrik adalah komponen utama yang mengubah energi putar menjadi energi listrik. Secara sederhana generator ini dapat kita gambarkan dengan dinamo sepeda. Pada jaman saya masih anak - anak lampu sepeda dihidupkan dengan dinamo kecil yang menempel di roda depan. Roda depan ini yang membantu putaran dinamo sehingga menghasilkan listrik. Kalau sepeda melambat maka lampupun akan meredup. Nah dalam PLTU generator listrik yang tentunya berukuran besar digerakan oleh alat pemutar yang disebut turbin.


( Foto : Baling Baling di dalam Turbin )


Kembali ke air yang berubah menjadi uap dalam teko. Apabila kita menempelkan baling - baling ke mulut teko yang menyemprotkan uap air maka baling - baling ini akan berputar. Nah baling - baling ini kita sebut sebagai Turbin. Turbin mempunyai poros yang dikopel / dihubungkan satu poros dengan generator. Generator akan berputar dan menghasilkan listrik.


Konsep sederhana ini menggambarkan tentang operasi utama dari PLTU : Kayu Bakar, Kompor, Teko, Baling - baling dan Generator listrik. Disini terjadi perubahan energi : energi panas kayu bakar berubah menjadi energi gerak ( mekanik ) baling - baling / turbin dan berubah menjadi energi listrik melalui generator. ( Foto ; Pemasangan generator di PLTU )

UAP & ASAP
Foto : Flue gas stack & ESP


Dari cerita teko / cerek di atas dihasilkan dua produk ada asap dan ada uap. Yang pertama adalah asap yang berasal dari kayu bakar dan yang kedua adalah uap yang berasal dari air yang dipanaskan. Demikian juga PLTU. PLTU mempunyai uap dari air yang dipanaskan dan asap dari hasil pembakaran batubara untuk pemanasan air. Asap dan Uap ini ditangani secara berbeda.

Asap kayu bakar ini tentu saja akan menyesakan paru - paru kalau terhisap oleh manusia. Oleh sebab itu asap PLTU yang berasal dari batubara ini harus ditangani secara serius sehingga tidak menyebabkan polusi lingkungan. Batubara yang dibakar mempunyai kemiripan dengan kayu yang dibakar. Ada abu yang jatuh karena ukuran debunya yang relative besar dan ada yang terbawa terbang karena ukurannya yang sangat kecil dan ringan. Di dalam PLTU debu yang berat ini langsung jatuh di bawah tungku Boiler, di kumpulkan dan di angkut ketempat penyimpanan debu ( Ash Yard / Storage ) sedang debu ringan yang terbawa terbang akan ditangani oleh ESP ( Electrostatic Precipitator ) yaitu alat penangkap debu. Melalui proses elektrostatik debu - debu kecil ini ditangkap. Bagaimana menangkapnya? Masih ingat pelajaran fisika di kelas 5 SD dulu kalau kita menggosok - gosokan penggaris mika ( plastik ) ke rambut kita yang kering dan kita tempelkan ke sobekan - sobekan kertas maka kertas itu akan tertarik atau menempel di penggaris ? Atau bila kita dekatkan ke tangan maka bulu - bulu tangan kita akan berdiri karena tertarik. Lalu apakah yang menarik itu ? Yang menarik itu adalah energi elektrostatik yang dapat ditimbulkan ketika bahan mika digosokkan ke bulu atau rambut yang kering. Jadi energi electrostatik ini yang digunakan untuk menarik debu - debu kecil yang terbawa terbang. Tentu saja teknologinya bukan dengan menggosok - gosokan mika tapi energi ini dibangkitkan melalui proses teknologi listrik di dalam ESP. Asap dan debu - debu yang sangat kecil yang tidak tertangkap ESP kemudian dialirkan melalui cerobong asap yang disebut Flue Gas Stack ( Chimney ) ke angkasa.

Bagaimana dengan uap air yang dihasilkan dari pemanasan air dengan suhu tinggi ? Uap air inilah yang digunakan untuk menggerakan baling baling turbin dan memutar generator listrik untuk menghasilkan energi listrik. Proses ini terjadi di dalam boiler dan turbin.

Bagaimana penanganan uap airnya ? Uap air yang keluar dari teko tentu saja akan langsung terbang ke udara. Tetapi di PLTU uap air ini tidak dibiarkan terbang keudara. Uap air dari Boiler yang kemudian masuk ke dalam turbin dan menggerakan baling - baling akan dikembalikan kembali bentuknya menjadi air. Caranya ? Ingat pelajaran fisika tentang perubahan bentuk. Uap akan menjadi air kembali bila didinginkan. Nah di PLTU ini uap kembali di dinginkan hingga menjadi air kembali. Pendinginnya adalah air juga. Air yang mana ? PLTU yang berlokasi dipinggir laut / pantai dapat dipastikan bahwa pendinginnya diambil dari air laut. Air laut dialirkan kedalam PLTU dan dimasukan ke dalam pipa pia pendingin yang disebut kondensor. Kemudian uap air dialirkan ke dalam ruang kondensor dan memindahkan panasnya ke air pendingin yang bersal dari laut. Uap menjadi dingin dan kembali menjadi air sedang air laut yang berfungsi sebagai pendingin menerima panas dari uap menjadi hangat dan dikembalikan ke laut.

Kenapa uap air dalam PLTU dikembalikan ke bentuk air kembali ? Ya karena air dari uap tersebut akan digunakan kembali, direbus kembali di dalam boiler dan menggerakan turbin kemudian didinginkan dan menjadi air kembali. Direbus kembali. Jadi air ini akan terus menjalani tugasnya. Dalam istilah teknis PLTU air ini disebut feedwater. Kalau dalam siklus sempurna secara teoritis air yang diubah menjadi uap kemudian didinginkan kembali menjadi air akan mempunyai volume yang sama. Tetapi pada prakteknya tidak ada yang sempurna. Ada saja uap air yang lepas keudara atau berubah menjadi gas sehingga saat didinginkan kembali volumenya tidaklah sama dengan volume sebelum direbus. PLTU membutuhkan volume air feedwater yang tetap. Lalu bagaimana mengganti air yang hilang ? Sederhana saja caranya. Ya ditambahkan saja sesuai dengan yang hilang. Istilah teknis air tambahan ini adalah make-up water. Jadi air yang masuk ke dalam Boiler atau teko PLTU ini adalah feedwater ditambah make-up water.

KEBUTUHAN AIR

Membaca cerita di atas kebutuhan air PLTU dibagi menjadi dua yaitu pertama yang digunakan untuk pendingin dan kedua yang direbus di dalam boiler untuk di ubah menjadi uap. Keduanya berasal dari laut hanya kegunaan dan penanganannya berbeda. Yang menjadi pendingin dibuang langsung ke laut. Yang satunya lagi harus dimurnikan atau di de-mineralisasi dahulu sebelum di masukan ke dalam Boiler atau teko PLTU untuk di rebus. Mengapa ? Masih ingat bahwa teko atau cerek yang karena begitu sering digunakan untuk memasak air akan terdapat kerak di dalamnya ? Kerak yang menempel di dalam teko / cerek tersebut berasal dari mineral atau kotoran halus di dalam air. Nah untuk menjamin umur Boiler PLTU maka proses kerak atau juga korosi di dalam boiler PLTU harus diminimalkan dengan cara pemurnian / de-mineralisasi air sebelum masuk boiler.

Limbah PLTU yang mana ?

Dari proses kerja di atas dari manakah asal limbah PLTU ? Limbah PLTU berasal pertama tentu saja dari asap dan gas yang berasal dari pembakaran batubara. Kedua ( ini sebetulnya bukan limbah ) air pendingin dari laut yang menjadi hangat dan dibuang kembali ke laut. Ketiga adalah dengan cara apa water treatment atau pengolah air dilakukan. Limbah juga bisa berasal dari sini. Berbahayakah bagi manusia dan lingkungan ? Ya tentu saja akan tergantung dari cara penangannya sebelum di lepas ke lingkungan. Misalnya besaran dan volume partikel debu ( fly ash ) yang diperbolehkan dilepas ke udara. Suhu air pendingin yang diperbolehkan sebelum di kembalikan kelaut sehingga tidak mengganggu biota laut. Penanganan limbah kimia yang mungkin digunakan untuk pemurnian air.














































































































































































































Thursday, October 30, 2008

Cilacap dan PLTU nya ( 4 )

Feedwater dan De-aeration.


Istilah Feedwater disini adalah air yang dimasukan ke dalam Boiler untuk dipanaskan dan di ubah menjadi uap. Feedwater yang digunakan dalam Boiler ( steam boiler ) adalah alat untuk mentransfer energi panas dari bahan bakar yang dibakar menjadi energi mekanis putaran turbin uap ( steam turbine ). Jumlah Feedwater yang masuk kedalam Boiler merupakan jumlah kondensat air ( uap dari Boiler yang didinginkan lagi ) yang disirkulasikan di tambah air murni ( de-mineralisasi ) atau biasa disebut purified makeup water. Tambahan Makeup water diperlukan karena pada saat menjadi uap dan digunakan untuk memutar turbin dan kemudian didinginkan kembali jumlah air kondensat menjadi berkurang. Dan untuk menghindari korosi corrosion pada suhu dan tekanan tinggi pada permukaan pipa maupun material dalam sistem boiler dan turbin yang terbuat dari bahan besi / metal, makeup water harus dimurnikan ( purified ) sebelum digunakan. Sistem penetralan air ( water softeners ) dan demineralisasi ( ion exchange demineralizers ) menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang tinggi hingga menjadi insulator ( electrical insulator ), dengan daya hantar ( conductivity ) berkisar 0.3–1.0 microsiemens per centimeter. Kebutuhan makeup water dalam PLTU 500 MW berjumlah lebih kurang 20 US gallons per minute (1.25 L/s) untuk menggantikan air yang hilang selama proses penguapan.
Siklus feedwater dimulai dari air kondensate yang dipompa keluar dari sistem pendingin ( condenser ) setelah melalui turbin uap. Kecepatan alir dari air kondensate ini pada PLTU 500 MW berkisar 6,000 US gallons per minute (0.38 m³/s).
Air kondensat dan makeup water mengalir melalui pemanas feedwater ( feedwater heaters ) dan deaerator . Deaerator ini berfungsi melepas udara ( O2 ) dari air. Hal ini diperlukan sebagai kelanjutan proses purifikasi air dan menurunkan sifat korosifnya.

Cilacap dan PLTU nya ( 3 )


Bagaimana PLTU Bekerja ?

1. Penyediaan Batubara
Batubara yang ditambang dibawa ketempat penyimpanan ( coal hoper ) untuk dipecah menjadi ukuran 5 cm (2 inches) .
Kemudian batubara diangkut dengan moda angkutan yang sesuai ( truk, kapal dsb ) ke lokasi PLTU dan disimpan di tempat penyimpanan ( Coal Yard ).
2. Pulverizer

Pulverizer adalah mesin sebagai bagian dari peralatan PLTU yeng merupakan mesin penghalus atau pemecah batubara.
Batubara dari coal yard diangkut ke pulverizer dengan conveyor belt untuk dipecah atau dihaluskan menjadi bubuk halus batubara, kemudian dicampur dengan udara dan ditiupkan ke dalam Boiler atau tungku untuk pembakaran.


3. Boiler


Gambar - kiri ke kanan : Stack + ESP - Boiler - Turbin & Generator Building ( warna biru )


Boiler adalah tempat dimana air yang telah dimurnikan diubah menjadi uap dengan cara pemanasan menggunakan pembakaran batubara. Batubara yang telah dicampur dengan udara dibakar secara instant di dalam Boiler. Jutaan liter air yang telah dimurnikan dipompakan melalui pipa – pipa kedalam boiler. Intensitas panas yang tinggi dari pembakaran batubara mengubah air yang telah dimurnikan di dalam pipa – pipa boiler menjadi uap panas bertekanan tinggi, yang kemudian memutar turbin untuk menghasilkan listrik.
4. Precipitator, stack

Batubara yang dibakar akan menghasilkan Burning carbon dioxide (CO2), sulphur dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx). Gas – gas ini dikeluarkan dari Boiler. Bottom ash atau abu yang lebih tebal / berat yang terbuat dari serpihan coarse dijatuhkan ke bawah Boiler dan masuk ke silo untuk dibuang. Fly ash atau abu yang sangat ringan terbawa oleh gas panas di dalam Boiler. Fly Ash ini dtangkap oleh electrostatic precipitator ( ESP ) sebelum gas buang terbang ke udara melalui cerobong asap ( Stack / Chimney ). ESP berfungsi sebagai filter udara yang menyaring atau menangkap 99.4% fly ash.
5. Turbine, generator

Air di dalam pipa – pipa Boiler menerima panas dari Boiler dan berubah menjadi uap. Uap bertekanan tinggi dari Boiler dialirkan ke Turbin sehingga berputar. Turbin adalah tempat dimana terdapat satu as beasi yang panjang yang dipenuhi dengan sirip baling – baling. As besi ini dikopel dengan generator atau dynamo listrik berkapasitas besar. Ketika uap bertekanan tinggi ini menyentuh sirip – sirip baling – baling ini, turbin akan berputar dengan kencang dan memutar bagian generator yang di kopel ke turbin. Generator yang berputar akan menghasilkan listrik.

6. Kondensator (Condensers) & Sistem Air Pendingin (cooling water system)

Air pendingin dialirkan ke dalam pembangkit dan disirkulasikan melalui pipa – pipa di dalam kondensor, yang digunakan untuk mendinginkan uap yang berasal dari turbin. Air pendingin yang bisa diambil dari air laut akan mendinginkan uap panas sehingga berubah menjadi air murni kembali dan disirkulasikan kembali ke Boiler untuk dipanaskan menjadi uap dan memutar turbin. Air pendingin yang diambil dari laut sekarang menjadi hangat karena adanya pertukaran panas di dalam kondensor, dibuang kembali ke laut.

7. Water treatment plant: Pemurnian Air ( Purifikasi )

Untuk mengurangi korosi, air yang diubah menjadi uap di dalam Boiler harus dimurnikan. Proses pemurnian air ini dilakukan di dalam Water Treatment Plant yang menjadi bagian dari PLTU.

8. Substation, transformer, transmission lines
Listrik yang dihasilkan oleh generator biasanya mempunyai tegangan 6,000 Volt atau 11,000 Volt akan dinaikan tegangannya menjadi 150,000 Volt ( 150kV ) atau 500,000 Volt ( 500kV ) melalui transformer sesuai system kelistrikan di Indonesia dan dialirkan ke Gardu Induk ( substation ) untuk didistribusikan. Kenaikan tegangan tersebut diperlukan untuk keperluan pendistribusian hingga ratus kilometer ke wilayah lain melalui jaringan transmisi.
Untuk penggunaan sehari – hari ataupun industri, tegangan tinggi tersebut akan diturunkan kembali melalui transformer menjadi 380 Volt ( phasa ke phasa ) atau lebih dikenal 220 Volt ( phasa ke netral ).

Cilacap dan PLTU nya ( 2 )

Batubara

Bahan Bakar Fossil


PLTU Cilacap dan Adipala dikegorikan PLTU dengan bahan bakar Fossil.
Pembangkit dengan bahan bakar fossil membakar fossil ( fossil fuels ) seperti batubara ( coal ), natural gas atau petroleum (oil) untuk menghasilkan listrik ( electricity ).
Bahan bakar fossil adalah sumber energi yang tidak terbarukan artinya bahan baker tersebut habis setelah di konversi dan tidak bisa diperbaharui lagi. Bahan baker ini terbentuk dari tumbuhan dan binatang yang tumbuh dan hidup pada 300 juta tahun yang lalu. Deposit bahan bakar ini dapat ditemukan di dalam bumi. Bahan bakar ini di bakar untuk melepaskan energi kimia yang terkandung di dalamnya.


Batu bara ( coal ) terbentuk dengan cara yang sama seperti bahan bakar fossil lainnya, walaupun batu bara mengaami proses yang berbeda yang disebut Coalification. Batubara merupakan bentukan dari tanaman atau pepohonan yang tertimbun di dalam tanah jutaan tahun yang lalu pada tekanan dan suhu yang tinggi. Komposisi batubara tidak seragam tetapi berbeda dari satu deposit ke deposit lainnya. Pembentukan batubara berawal dari Peat atau tumbuhan yang mati. Peat menjadi Lignite, batu kecoklatan yang mengandung dan memperlihatkan dengan jelas material tumbuhan dan mempunyai nilai panas yang rendah. Lignite merupakan setengah perjalanan dari peat ke batubara. Phase berikutnya adalah sub-bituminous, bongkahan hitam yang hanya sedikit memperlihatkan material tumbuhan. Jenis ini mempunyai nilai panas yang sedikit di bawah nilai panas ideal. Dari sub-bituminous menjadi Bituminous, yaitu batubara berwarna hitam pekat dengan densitas yang tinggi. Batubara jenis ini mempunya nilai panas yang tinggi.


Yang utama dari bahan bakar fossil adalah bahan bakar ini terbuat dari Hydrocarbon. Dua elemen Hydro dan Carbon dapat membentuk senyawa yang berbeda – beda dengan karakteristik yang unik. Apa yang membuat hydrocarbon ini berguna bagi masyarakat kita adalah energi matahari yang terperangkap dalam tubuh organisma hewan maupun tumbuhan yang hidup ratusan hingga jutaan tahun yang lalu, mati karena berbagai alasan dan tertimbun tanah. Bagaimana kita mendapatkan energinya ? Ya dibakar.



Pembangkit listrik


Pembangkit dengan bahan bakar fossil dirancang pada pembangkit dengan skala besar untuk operasi yang terus menerus. Di banyak Negara pembangkit jenis ini banyak digunakan untuk memproduksi listrik. Pembangkit ini mempunyai berbagai jenis mesin berputar ( rotating machine ) untuk mengubah tenaga panas hasil pembakaran ( combustion ) menjadi tenaga mekanis ( mechanical energy ), yang kemudian memutar generator listrik ( electrical generator ) sebagai pembangkit listrik. Penggerak utama ( prime mover ) bisa berupa turbin uap ( steam turbine ), atau turbin gas ( gas turbine ).

Hasil produk buang pembangkit adalah limbah panas. Limbah panas yang disebabkan oleh efisiensi terbatas ( finite efficiency ) dari siklus daya harus dilepas ke udara, sering menggunakan Tower Pendingin ( cooling tower ), sungai, air danau atau air laut sebagai media pendingin. Gas buang ( flue gas ) dari pembakaran bahan bakar fossil bi buang ke udara. Gas buang ini mengandung Karbon Dioksida ( carbon dioxide ) dan uap air, sama seperti halnya kandungan lain seperti nitrogen, nitrous oxides, sulfur oxides, dan ( dalam kasus Pembangkit berbahan bakar batubara ) fly ash and mercury. Limbah debu padat dari pembangkit bahan bakar batubara juga harus dibuang. Debu batubara ini dapat di daur ulang sebagai bahan bangunan seperti batu bata.


Konsep Dasar

Dalam pembangkit berbahan bakar fossil, energi kimia yang tersimpan dalam fossil (seperti batubara / coal, minyak / fuel oil, gas alam / natural gas atau oil shale) dengan oxygen yang terkandung dalam udara ( air ) di ubah menjadi energi panas ( thermal energy ), energi mekanik ( mechanical energy ) . Sebagian besar pembangkit listrik thermal di dunia ( thermal power stations ) menggunakan bahan bakar fossil, selebihnya adalah nuclear, geothermal, biomass, atau solar thermal.


Konversi Kimia ke Energi panas.

Pembakaran lengkap ( complete combustion ) bahan bakar fossil menggunakan udara sebagai sumber oksigen.
Tergantung pada parameter suhu dan bara ( flame ) pada proses pembakaran, beberapa Nitrogen dapat dioksidasikan ( oxidized ), menghasilkan Nitrogen Oksida ( nitrogen oxides ). Hasil lain dari pembakaran adalah sulfur dioxide yang timbul karena impuriti Sulfur terutama dalam batubara.


Konversi Panas ke Energi Mekanis.

Hukum kedua thermodynamics ( Second law of thermodynamics ) mengatakan bahwa siklus tertutup ( closed-loop cycle ) hanya dapat mengubah sebagian panas sebagai hasil pembakaran menjadi kerja mekanis ( mechanical work ). Sisa panas yang lain yang disebut limbah panas ( waste heat ), harus dilepas ke dalam sistem pendingin untuk kembali dalam siklus. Bagian panas yang dilepas kedalam media pendingin harus sebanding atau lebih besar dari rasio absolute temperatures sistem pendingin (environment) dan sumber panas / pembakaran (combustion furnace). Menaikan suhu sumber pembakaran ( furnace ) akan memperbaiki efisiensi tetapi juga akan menaikan tekananan uap. Hal ini akan memperumit desainnya dan membuatnya semakin mahal. Meskipun sisa panas / limbah panas ini tidak dapat dikonversi menjadi energi mekanis tanpa sistem pendingin tetapi masih dapat digunakan dalam sistem ko-generasi ( cogeneration plants ) untuk pemanas dalam bangunan, pemanas air dalam industri seperti oil refineries, cement plants, dan chemical synthesis plants.


Pengangkutan Bahan Bakar

PT PLN sedang dan akan membangun beberapa PLTU di pulau Jawa dalam program percepatan 10,000 MW. PLTU – PLTU tersebut berbahan bakar batubara. Batubara akan didatangkan dari luar pulau dan diangkut dengan kapal. Oleh sebab itu semua PLTU dalam program ini berlokasi dipinggir pantai dan dilengkapi dengan pelabuhan batubara ( Jetty ). Kapal pengangkut ini bisa membawa 40,000 ton batubara dan bisa memakan waktu berhari – hari untuk membongkar muatannya di pelabuhan batubara di lokasi PLTU. PLTU dilengkapi dengan fasilitas bongkar ( Coal Un-Loader ) dan Conveyer Belt untuk membawa batubara ke lokasi penyimpanan ( Coal Yard ).

Untuk keperluan startup atau keperluan lain, PLTU mungkin juga membutuhkan bahan bakar minyak fuel oil . Minyak ini dapat dikirim menggunakan pipeline, tanker, tank car atau truk.


Proses Bahan Bakar

Batubara siap digunakan dengan menghaluskannya menjadi serpihan dengan ukuran kurang dari 2 inchi ( 5 cm ). Batubara diangkut dari tempat penyimpanan ( coal yard ) ke Silo ( tabung besar dari besi dengan bentuk kerucut dibagian bawah ) di pembangkit menggunakan conveyor belts dengan kecepatan 4,000 ton/jam.

Dari Silo ini batubara dimasukan kedalam mesin penghalus / pemecah ( pulverizers / coal mills). Pulverizer ini memecah dan menghaluskan batubara dari semula berukuran pecahan 2-inchi menjadi bubuk batubara ( face powder ), memprosesnya dan mencampur bubuk tersebut dengan udara untuk pembakaran ( primary combustion air ). Kemudian memasukan batubara ke tungku ( furnace ) dan memanaskan batubara sehingga siap untuk dibakar. PLTU 2 x 300 MW bisa mempunyai 6 unit pulverizer dan dalam beban penuh sanggup menyediakan batubara ke tungku sebanyak 250 ton / jam.

Cilacap dan PLTU nya ( 1 )


Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Cilacap ( Tjilatjap )
Dengan Bahan Bakar Batu Bara
Fossil fuel power plant
Dirujuk dari beberapa sumber
.


Dalam hitungan tiga tahun ke depan Cilacap akan memiliki 2 PLTU. Yang pertama adalah PLTU Cilacap 2 x 300 MW di daerah Karangkandri dan PLTU Adipala di wilayah Adipala. PLTU Cilacap 2 x 300 MW ini telah beroperasi dan menyumbangkan energi listrik ke dalam jaringan interkoneksi Jawa Bali. Sedang PLTU Adipala atau yang dikenal sebagai PLTU Jateng 2 berlokasi di Desa Bunton Kecamatan Adipala tersebut akan dibangun dengan kapasitas 1x600 MW dengan nilai keseluruhan sekitar 550 juta dólar US. Kedua PLTU tersebut menggunakan peralatan utama yang di produksi di Cina.
Menilik lokasi kedua PLTU tersebut dapat dikatakan berdekatan. Keduanya berdiri di garis pantai Telukpenyu. PLTU Cilacap ( Karangkandri ) di sebelah kanan Muara Sungai Serayu sedang PLTU Adipala akan berada di sebelah kiri Muara Sungai Serayu. Kelak pengunjung pantai Telukpenyu kota Cilacap akan melihat dua PLTU dengan masing – masing satu cerobong asap ( Chimney / Flue Gas Stack ).
Apakah PLTU itu ? Beberapa posting tulisan ini akan sedikit membantu masyarakat terutama para pelajar dan mahasiswa Cilacap untuk memahami apakah PLTU dan bagaimana prosesnya serta dampak – dampaknya yang mungkin terjadi bagi kabupaten Cilacap dan kota Cilacap pada khususnya.

Tuesday, July 29, 2008

Christiaan Eijkman

Christiaan Eijkman
The Nobel Prize in Physiology or Medicine 1929
It was at Tjilatjap that he caught malaria which later so impaired his health that he, in 1885, had to return to Europe on sick-leave.

Christiaan Eijkman was born on August 11, 1858, at Nijkerk in Gelderland (The Netherlands), the seventh child of Christiaan Eijkman, the headmaster of a local school, and Johanna Alida Pool.A year later, in 1859, the Eijkman family moved to Zaandam, where his father was appointed head of a newly founded school for advanced elementary education. It was here that Christiaan and his brothers received their early education. In 1875, after taking his preliminary examinations, Eijkman became a student at the Military Medical School of the University of Amsterdam, where he was trained as a medical officer for the Netherlands Indies Army, passing through all his examinations with honours.From 1879 to 1881, he was an assistant of T. Place, Professor of Physiology, during which time he wrote his thesis On Polarization of the Nerves, which gained him his doctor's degree, with honours, on July 13, 1883. That same year he left Holland for the Indies, where he was made medical officer of health first in Semarang later at Tjilatjap, a small village on the south coast of Java, and at Padang Sidempoean in W. Sumatra. It was at Tjilatjap that he caught malaria which later so impaired his health that he, in 1885, had to return to Europe on sick-leave.For Eijkman this was to prove a lucky event, as it enabled him to work in E. Forster's laboratory in Amsterdam, and also in Robert Koch's bacteriological laboratory in Berlin; here he came into contact with A. C. Pekelharing and C. Winkler, who were visiting the German capital before their departure to the Indies. In this way medical officer Christiaan Eijkman was seconded as assistant to the Pekelharing-Winkler mission, together with his colleague M. B. Romeny. This mission had been sent out by the Dutch Government to conduct investigations into beriberi, a disease which at that time was causing havoc in that region.

In 1883, before his departure to the Indies, Eijkman married Aaltje Wigeri van Edema, who died in 1886. In Batavia, Professor Eijkman married Bertha Julie Louise van der Kemp in 1888; a son, Pieter Hendrik, who became a physician, was born in 1890.He died in Utrecht, on November 5, 1930, after a protracted illness.

From Nobel Lectures, Physiology or Medicine 1922-1941, Elsevier Publishing Company, Amsterdam, 1965

Sunday, June 24, 2007

A History of Tjilatjap (Cilacap) in Battle of Java 1942











REF : Tjilatjap (Cilacap)

This article concerns the land battle of Java in 1942 and the fall of important cilacap port to Japan. For the preceding naval battle see Battle of the Java Sea. The Battle of Java was a battle of the Pacific theatre of World War II. It occurred on the island of Java, between February 28 and March 12, 1942. It involved forces from the Empire of Japan, which invaded on February 28 1942, on one side and Allied personnel. Allied commanders signed a formal surrender at Japanese headquarters at Bandung on 12 March.

Date
February 28, 1942–March 12, 1942

Location
Java

Result
Japanese Victory











Strength
Netherlands: 25,000; Britain: about 3,500; Australia: about 2,500; U.S. about 1,000
about 35,000 troops

Casualties
Netherlands: 4500+ dead and wounded;Britain: 100 dead;Australia: 36 dead, 60 wounded;U.S.: ?
Unknown

Netherlands East Indies campaign 1941-42
Borneo 1941-42 – Manado – Tarakan 1942 – Balikpapan 1942 – Ambon – Makassar Strait – Palembang – Badung Strait – Timor – Java Sea – Sunda Strait – Java

East Java Campaign moving southward

The Sakaguchi Detachment from Balikpapan joined the East Java Invasion fleet as well. After landing they were divided into 3 units with 1 battalion each:
Kaneuji Unit : Major Kaneuji
Yamamoto Unit : Colonel Yamamoto
Matsumoto Unit : Lieutenant Colonel Matsumoto
and moved southward with main objective to occupy Tjilatjap (Cilacap) in order to capture the harbour and blocked the retreat to Australia. In one week, they advanced rapidly and overcame all Dutch army defence found in Blora, Soerakarta (Surakarta), Bojolali (Boyolali), Jogjakarta (Yogyakarta), Magelang, Salatiga, Ambarawa and Poerworedjo. Kaneuji and Matsumoto Unit moved through mainland, captured Keboemen and Purwokerto, north of Cilacap on the 8th. Yamamoto Unit moved along the beach, made two pronge attack. On the 8th, the Yamamoto Unit entered Cilacap, but the Dutch had withdrawn to Wangon. Wangon is a small town located in the middle between Purwokerto and Cilacap.
While Japan was preparing attack to Wangon, on March 9, Maj.Gen. Pierre A. Cox, the Dutch Central Army District commander was ordered by headquarter to surrender to Japan.
The Dutch surrendered
By March 7, the Japanese had occupied Cilacap; Surabaya was being evacuated and the Japanese troops were converging on Bandung from both west and north. At 9 a.m. on the 8th the Commander-in-Chief of the Allied forces, Lieutenant General Hein Ter Poorten, announced that the Royal Netherlands East Indies Army in Java surrendered.
Source : ibiblio.org

Tuesday, April 03, 2007

Kapal Hantu

Yang Mati
Di perairan Bali, di malam 4 Februari 1942 sebuah kapal perang menyusuri lautan yang kelam dalam bayang - pegunungan menuju sebuah pelabuhan di selatan pulau jawa. Kapal tersebut menderita kerusakan hebat, sebuah aerial bomb menghantam tiang kapal dan meluluh lantakkan meriam beserta gun-housenya. Ledakan hebat telah menewaskan 46 awak kapalnya. Sang kapten kapal harus segera mencapai pelabuhan untuk memperbaiki kapal dan memakamkan awaknya secara terhormat.
Tjilatjap
Sebagai sebuah kapal perang berbendera Amerika ini adalah ledakan pertama dalam perang yang baru berumur 60 hari. USS Houston, kapal penjelajah, adalah kapal perang terbesar Amerika yang berlayar menuju pelabuhan Tjilatjap. Angkatan laut amerika telah bersekutu dengan Belanda - Dutch East Indies. Sejak penyerbuan Jepang hampir diseluruh Indonesia di awal 1942, Tjilatjap adalah salah satu dari tiga surga bagi kapal - kapal sekutu untuk berlindung, memperbaiki kapal dan mengisi perbekalan di perairan yang sangat berbahaya. Kedua pelabuhan lain adalah Soerabaja dan batavia. Dengan invasi pesawat - pesawat tempur Jepang dari arah utara pulau Jawa ketiga pelabuhan ini dengan cepat menjadi tidak berdaya. 3 Februari 1942 Jepang membombardir Surabaja. Di sebelah barat Jawa Batavia juga menjadi target serangan.
Perang
Sejak dimulainya perang tanggal 8 Desember 1941, Jepang hanya membutuhkan waktu 48 jam untuk menyerang pangkalan udara amerika di Philipina menenggelamkan 2 kapal perang terbesar sekutu di wilayah tersebut, kapal perang Inggris Prince of wales dan cruiser Repulse. Dengan serangan yang tiada henti, Jepang merebut Selebes ( Sulawesi ) dan Borneo ( kalimantan ) yang digunakan sebagai pijakan serangan berikutnya. Bayangan serbuan Jepang mengancam pulau Jawa sebagai basis terakhir tentara sekutu di koloni Belanda untuk mencegah serbuan ke arah Australia.
USS Houston
Tengah malam 3 Februari 1942 pesawat pengintai sekutu memperingatkan akan adanya invasi Jepang ke selat Makasar. Sekutu membuat penyelamatan terakhir dengan membentuk armada penyerang. untuk misi itu USS Houston meninggalkan Surabaja bersama cruiser kecil Amerika USS Marblehead, cruiser Belanda De Ruyter dan Tromp serta dikawal 8 destroyer di bawah komando admiral Belanda Karel WFM Doorman. Armada sekutu berlayar di malam hari agar terhindar dari serangan pesawat - pesawat Jepang.
Pada 4 februari 1942, karena jarak yang cukup jauh menuju target maka tidak ada pilihan lain mereka harus berlayar di siang hari ketika melintasi laut Flores. Tidak ada pesawat kawan yang melindungi mereka. Pagi hari sekitar jam 10 pesawat - pesawat Jepang muncul mengakhiri misi Doorman sebelum terwujud. Dengan formasi V pesawat - pesawat Jepang mulai menembak dan membombardir armada sekutu. Tidak satupun kapal yang luput dari bom. Armada sekutu terlihat begitu lemah. USS Houston pun tercabik. Kebakaran hebat melanda. Hanya tersisa Houston dan Marblehead yang rusak Admiral Doorman membatalkan misinya dan memerintahkan menuju Tjilatjap untuk perbaikan.
Hanya karena beruntung USS Houston tidak tenggelam. Ketika senja tiba, Kapten Rooks membawa Houston ke wilayah yang aman keluar dari laut Flores melalui selat Alas menuju lautan Hindia. Di dalam kegelapan malam dan bayang - bayang puncak Rinjani dan Agung anak buah kapal mulai mengumpulkan jasad - jasad prajurit yang tewas. Mayat - mayat dijejerkan diidentifikasi dan diterka kemudian ditutupi terpal. Suasana sangat mencengkam dan sunyi tanpa lampu. Hanya bunyi suit angin samudra mengantar kapal hantu Houston menuju Tjilatjap.
( Disadur bebas dari SHIP of GHOSTs, by James D Hornfischer )

Wednesday, February 21, 2007

Kambangan Island

Nusa Kambangan ( Kambangan Island )










Geography
Location
South East Asia
Coordinates
7°45′S 108°55′E
Area
121 km²
Administration
Indonesia
Province
Central Java
Demographics
Population
Around 3000 natives, and several hundred inmates
Indigenous people
Javanese

Kambangan (also Nusa Kambangan, Nusakambangan or Nusa Kembangan) island is located in the Indian Ocean, separated by a narrow strait off the southern coast of Java island; the closest port is Cilacap in Central Java province. Dubbed as the "Alcatraz of Indonesia", the island is notorious for its maximum security prisons, home to convicted murderers, terrorists, drug dealers and those convicted in high profile corruption cases.


History
The island was made into a prison island during the Dutch period. The colonial government built a high security prison on the isolated island to exile criminals and political dissidents. The prison on Nusakambangan was opened in the mid-1920s by Indonesia's former Dutch colonial rulers and was once considered the harshest penal institution in South East Asia. The island was declared off-limits in 1905 by the Dutch.
Its usage as a prison island continued after independence. During the rule of former President Suharto, hundreds of political dissidents were imprisoned on the island. Most were political prisoners, members of the banned Communist Party of Indonesia.
In 1996 the island was finally opened to the public as a tourist destination.
The island has also been involved in refugee handling. About 140 Afghan refugees were detained on the island after their boat, which was en route to Christmas Island, Australia, sank in rough seas on August 17, 2001. However, more than 90 of these refugees would later escape in September 19, 2001, sailing away in small fishing boats and are believed to be have headed for Australia. The island was also affected by the July 2006 Java earthquake, when a tsunami triggered by a 7.7-magnitude undersea earthquake off the coast of Java. At least 11 villagers diappeared and 8 people killed in the aftermath, two of which are prisoners in Permisan prison. And at least fifteen inmates on the Nusakambangan prison island near Pangandaran were also missing.

Geography and nature
Javan Lutung, one of primates found in Nusakambangan .


Nusakambangan is separated from Java island by the narrow Segara Anakan strait. Being isolated from the mainland Java, the island is relatively under-developed and less inhabitated in which wildlife is still kept preserved. The eastern side to a bay is a nature reserve area where an old Dutch fortress is located on the Karangbandung beach. As a lowland tropical rain forest, Nusakambangan is biologically diverse. Although the island area is only 17,000 hectares (or one-thousandth of the Java island), it is the habitat of one-tenth of Java's flora.
More than 71 different bird species, 14 reptile species and various mammal species are found in the island. Twenty-three bird species are in the protected status including Kuntul Karang (Egretta sacra), Black Egret (Ciconia episcopus), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), white-bellied sea eagle (Haliaeetus leucogaster), elang bondol (Haliastur indus), and elang bido (Spilornis cheela). Several other protected mammal species include the black-spotted leopards (Panthera pardus), Javan Muntjac (Muntiacus muntjak) and Javan mouse deer (Tragulus javanicus). Four of six endemic primates in Java, namely Javan Lutung (Trachypithecus auratus), the crab-eating Macaque (Macaca fascicularis), Javan Surili (Presbytis comata), and kukang (Nyctibus sp.), have been reported to live on the island.
Demographics
The island population is 3,000, excluding the prison inmates and staff; most inhabitants are Javanese. Their main occupation is fishery and some work in rubber and teak plantations. However, illegal logging activities, mostly conducted by outsiders, threaten the island environment. Such activities have resulted in a vast critically threatened land area of approximately 3,000 hectares.
There are nine prisons built in the island, four of which are still used:

Permisan prison, built in 1908,
Batu prison, built in 1925,
Besi prison, built in 1929,
Kembangkuning prison, built in 1950.

There are also five inactive prisons:

Nirbaya prison, built in 1912,
Karanganyar prison, built in 1912,
Karangtengah prison, built in 1928,
Gliger prison, built in 1929,
Limusbuntu prison, built in 1935.
All of these were built by Dutch, except Kembangkuning prison, which was built after independence. Of these, Batu prison is considered the most famous.
Notorious inmates
Famous people once imprisoned on the island include:
Pramoedya Ananta Toer, poet and novelist, jailed as political prisoner.
Bob Hasan, former Minister of Forestry, convicted of corruption charges,
Imam Samudra, Amrozi, and Ali Gufron, three men convicted of organising the 2002 Bali bombing. They were expected to be executed there.
Tommy Suharto, son of former president Suharto, convicted of masterminding the murder of the judge who sentenced him for corruption.
Fabianus Tibo, Dominggus da Silva and Marianus Riwu, three men convicted as provocateurs of a deadly riot in Central Sulawesi; they have been excecuted there. Nusakambangan has also held hundreds of members of Gerakan Aceh Merdeka, but they were later released as part of a peace deal.
Tourism
From the mid-1990s, the island was intermittently promoted by local authorities as a tourist destination, primarily for its caves, beaches, and unusual wildlife that is extinct on Java. Notable attractions include Permisan beach (pantai Permisan) with its beautiful white and gray sands near the Permisan jail lighthouse, Ranca Babakan on the west coast of the island, White Sands beach (Pantai Pasir Putih), and several caves such as Queen's cave (Goa Ratu). According to the Cilacap Tourism Office, Nusakambangan was opened as a tourist destination following an agreement between the Central Java Governor and Ministry of Justice in 1996. The Cilacap government then invested some Rp 1.7 billion in preparations for the opening up of the island, most of which was used on the construction of tourist-related infrastructure. A special agency (BPOW) was also established to manage tourism on the island, with the Nusakambangan Prison warden made head of the agency and Cilacap Tourism Office chief as the deputy. One of the main cultural events is Sedekah Laut (sea sacrifice), which is held by the Surakarta Sultanate every new year in the Javanese calendar.

Vuurtoren te Noesa Kambangan

Vuurtoren te Noesa Kambangan
Kambangan Island Lighthouse
Mercu Suar Nusa Kambangan

The Charm of an Isolated Island

IBonWEB.com - Since Dutch colonial times, Nusakambangan has long been known as a high security. Despite this negative image, most parts of this island have potential to be developed as tourist destinations. If you can imagine a quiet and peaceful place, away from the hustle and bustle of big cities, take a journey to Nusakambangan Island off the southern part of Central Java. It will bring you face to face with what you imagined, an island getaway well worth a visit.
You no longer need any special permits to visit this formerly isolated island. That is, unless you want to go to some restricted areas where jails are still in use, such as Limusbuntu, Besi, Batu, Kembang Kuning and Permisan in the west and Karangtengah, Gliger, Nirbaya and Karanganyar in the east. Now some of the jails inherited from the Dutch and built between 1908 and 1912 are no longer in use and the total number of prisoners has dropped slightly.
Nusakambangan has been recognized for many years as "the Prison Island" as in the Dutch era it was used to isolate prisoners serving long-term sentences. The island, covering about 210 square kilometers, can be reached from Jakarta in about one hour by a plane that lands at Cilacap's airport, Tunggul Wulung. Overland travel is an alternative but takes more or less 10 hours. Crossing to the island from Cilacap's Wijaya Pura harbor using a small motorboat, usually called compreng by locals, takes ranges from minutes to hours depending on which part of Nusakambangan you want to reach.
With its thousands of islands, many of Indonesia's small ones still offer hidden potential for development into tourist spots. However, out of the 17,508 islands that make up the nation, perhaps only 3,000 have developed in any way. The attention that has mostly been given to the big islands has meant the development of small ones has been bypassed, leaving their inhabitants struggling to make ends meet.
The people of Nusakambangan, for instance, were formerly fishermen. However, in the last few years, erosion has silted up the river mouth near the island, causing them to catch far less. So now, they have moved into the agricultural sector, planting various types of crops such as rice, corn, and vegetables. This may be adequate for their daily needs but the local government there is now thinking of developing another of the island's potentials: the tourism sector.
Indeed the island has many beautiful panoramas. Just go to Pantai Permisan (Permisan beach) with its beautiful white and gray sands near the Permisan jail lighthouse, Ranca Babakan on the west coast of the island, Pantai Pasir Putih (White Sands beach), and several caves such as Goa Ratu, (Queen's cave). All this is without mentioning the richness of its tropical forest, its mangrove forest or its unique fauna, as well as the historic buildings inherited from the Dutch. In a hilly area called Candi that faces Besi jail, for instance, there is an old Dutch era ruined building from where visitors can view much of the island's natural beauty. All this beauty remains tucked away with a minimum of infrastructure and in the midst of an all-embracing natural environment. There is no touch of modernization in the facilities offered would-be tourists on the island. This is also perhaps because most of the island has been used as a conservation area.
In the island's eastern part there is a conservation area, the Cagar Alam Nusakambangan Timur (East Nusakambangan Nature Reserve). It contains a bay with the beautiful Karangbandung beach, while immediately inland there is an old fortress facing the sea. In past ages it was used by Portugal, the Netherlands and finally Japan. From it they could clearly observe the movements of shipping into and out of Cilacap's natural harbor. In Karangbolong, another conservation area, there are many protected species of birds such as Kuntul Karang (sacred egret Egretta Sacra), Bangau Hitam (black egret, Ciconia Episcopus), Bangau Tongtong (Leptoptilos Javanicus) and Elang Laut (sea eagle or Halistur Sp.). Many years ago lots of coins and blocks of black tin were also found near Karangbolong's beach, but now such finds are rare. For many years, the Karangbolong area has also been famous for another natural resource, its swallows' nests. Besides the conservation areas of Nusakambangan Timur and Karangbolong there are two others : Cagar Alam Nusakambangan Barat (West Nusakambangan Nature Reserve) and Cagar Alam Wijaya Kusuma (Wijaya Kusuma Nature Reserve).
The struggle of Central Java's local government to develop Nusakambangan as a tourist destination will not succeed in a day or two. In the past, the central government strongly disagreed with the idea of turning Nusakambangan from an island of prisoners closed to the public into one open for tourism. After visiting the island in October 1988, a government team of four ministers, Minister of the Environment Emil Salim, Minister of Forestry Hasjrul Harahap, Minister of General Affairs Radinal Mochtar and Minister of Justice Ismail Saleh recommended it should remain a closed area. The government was afraid the tropical forests, and the various types of rare animals on the island might all be destroyed by irresponsible vandalism.
However, that team's recommendation did not lead the Central Java provincial government to give up on attempting to turn the island into a tourist destination. They continue to intensively lobby the central government until in 1995 the then Minister of Justice, Oetoyo Oesman, gave approval to open up the island to limited tourism. Since then, slowly but surely the hidden beauty of Nusakambangan can be enjoyed by tourists.
Tourism the Future Hope
Klaces or Kampung Laut, a village on Nusakambangan Island, contains a community of around 1,500 people living on about four hectares of land. The village is relatively developed, although the lives of its people are still simple. It is now in process of becoming a new kelurahan (subdistrict). Formerly, these people also earned their living from fishing, but the silting up of the estuary of the Segara Anakan has led to poor catches so they have moved into farming. Some of them, though, are depending on their fishponds. Their new farming activities will continue to meet these people's daily needs into the future through the production of commodities such as coconuts, bananas, sugar cane and rice.
Although that is enough just to meet their needs, it is not enough for them to enjoy a better lifestyle. Hence they are strongly supportive of the provincial government's plan to turn their village into a tourist destination. At present, many tourists coming from Pangandaran just pass by their village, but don't stop to see what Klaces has to offer. Pangandaran itself has enjoyed the benefits of an influx of around 45,000 tourists a year, mostly from overseas. Now, Klaces' officials will start to promote the attractions of their village. "We want to develop Kampung Laut by publicizing the many tourist destinations here," confirmed Yuliaman Sutrisno, secretary of the Kampung Laut sub district.
For that purpose, a special team has been set up to promote the plan and to prepare the village people themselves to cope with visitors. "We have no funds whatsoever to develop any infrastructure, so we really need the help of future investors," Sutrisno said. The locals have given some media exposure to Maria Cave, a shrine where, they claim, the Dutch often prayed in the past. The cave has stalactites and stalagmites with one said to resemble the shape of Maria, the mother of Jesus. Believing in the effectiveness of religious drawing power in tourism, the people of Kampung Laut are not only targeting Catholic or Christians. They also have a cave called Mas Sigitsela, usually visited by Moslems, and yet another located above an area called Selo Landak, usually visited by Buddhists. All of these are still in their original state, yet to be developed as tourist sites. So, the locals are now hoping outsiders will be ready to invest in them.
Perhaps their big hopes for tourism development are also motivated by the evidence of the success of an annual event conducted in nearby Segara Anakan river every Moslem New Year, 1 Muharram. People from the Solo Sultanate go out to sea their offerings of flowers and foods from the Segara Anakan. Their intention is to express thanks to God and to ask for His blessings for a safe and prosperous life. Thousands of people take part in the annual ritual, coming not only from other villages but also from other countries such as Japan and the European ones. At the commemoration, people from all levels of society, and levels of income and economic situations gather at the same place at the same time to celebrate this auspicious day for blessings, one they usually call 'ngalap berkah'. And the day gives its own blessings to locals who reap significant extra income from it. IRENE KOESOETJAHJO